Penjelasan dari yang menggunakan lafadz "sayyidina"

Posted on: Taiwan Halal / By Faisal Fahmi / Editor Faisal Fahmi / 2016-07-17 10:49:33 / 1310 Views

Penjelasan dari yang menggunakan lafadz "sayyidina"

Penambahan kata "sayyidina" ketika mengucapkan kata "Muhammad" memang sudah menjadi perdebatan semenjak dulu yang sebenarnya bukan masalah urgent untuk dibahas terlalu jauh, karena bagi yang mengamalkan hukumnya baik, dan yang meninggalkannya pun tidak berdosa.

Berbeda ketika ada seorang yang mengatakan bahwa menambah kata "sayyidina" itu menurunkan derajat Nabi Muhammad Saw dan menyarankan kepada orang lain untuk meninggalkannya, maka agaknya perlu jawaban yang lebih ilmiah untuk menjawab pendapat tersebut.

Dijelaskan dalam kitab "Ghoytsus Sahabah" karya Sayyidi Syeikh Muhammad Ba'atiyah halaman 39, dijelaskan bahwa:

"Kata Sayyid jika dimaknai secara mutlak, maka yang dimaksud adalah Allah. Akan tetapi jika dikehendaki makna lain maka bisa bermakna:

1. Orang yang diikuti di kaumnya.
2. Orang yang banyak pengikutnya.
3. Orang yang mulia di antara relasinya."

Sementara pada halaman 37 disebutkan: "Orang yang memimpin selainnya dengan berbagai kegiatan dan menunjukkan tinggi pangkatnya".

Sedangkan di dalam Kitab "Ghoyatul Muna" halaman 32, Sayyidi Syeikh Muhammad Ba’atiyah menyebutkan: "Sayyid ialah orang yang memimpin kaumnya atau yang banyak pengikutnya."

Dan masih banyak lagi makna lainnya. Dari sini kita mulai bisa mengerti makna beberapa Hadits yang ada lafadz Sayyid, misalnya:

ﺍﻧﻬﻤﺎ ﺳﻴﺪﺍ ﺷﺒﺎﺏ ﺍﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ

"Hasan dan Husein adalah pemimpin pemuda Ahli Surga"

ﺍﻧﺎ ﺳﻴﺪ ﻭﻟﺪ ﺍﺩﻡ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻭﻻ ﻓﺨﺮ

"Aku adalah pemimpin anak adam pada hari kiamat"

ﺍﻧﺎ ﺳﻴﺪ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ

"Aku adalah pemimpin alam"

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ; ﻗﻮﻣﻮﺍ ﺍﻟﻰ ﺳﻴﺪﻛﻢ

Pada hadits ini Khottobi berkomentar tidak apa-apa mengatakan Sayyid untuk memuliakan seseorang, akan tetapi makruh jika dikatakan pada orang tercela.

Sementara dalam Kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi dalam catatan kaki halaman 4 nomor 2, dikatakan bahwa: "Memutlakkan kata Sayyid pada selain Allah itu boleh".

Dalam kitab Roddul Mukhtar diterangkan: "Disunnahkan mengucapkan Sayyid karena Ziyadah Ikhbar Waqi’ itu menunjukkan tatakrama dan itu lebih baik dari meninggalkannya".

Lalu selanjutnya jika mereka para Muktamirin bertendensi dengan dua hadits yaitu:

1. ﻻ ﺗﺴﻴﺪﻭﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ
2. ﺍﻧﻤﺎ ﺍﻟﺴﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ

Maka saya akan menjawab dari kitab "Ghoyatul Muna" karya Sayyidi Syeikh Muhammad Ba'atiyah dijelaskan pada halaman 32:

"Adapun hadits yang mengatakan "Jangan kau men-sayyid-kan aku dalam Shalat", Hadits ini adalah Hadits yang tidak sah matan dan sanadnya, adapun matannya gugur menurut Ahli Hadits, sementara matannya lafadz ﺗﺴﻴﺪﻧﻲ itu tidak benar secara Nahwu karena yang benar lafadznya ﻻ ﺗﺴﻮﺩﻭﻧﻲ sedangkan Rasulullah SAW adalah paling fasihnya orang orang Arab."

Sementara dalam Kitab "Maqosid Hasanah" halaman 463 dikatakan:

"Hadits ini merupakan Hadits Maudlu' (palsu), itu tanggapan Al-Hafidzb As-Sakhowi bahwa hadits ini tidak ada asal usulnya dan salah dalam lafadznya."

Sementara Hadits yang kedua akan saya jawab dari kitab "Zadul Labib" karya Sayyidi Syeikh Muhammad Ba’atiyah juz 1 halaman 9:

"Adapun Hadits yang diriwayatkan dari Abu Dawud dan Ahmad dari Hadits Nabi SAW ﺍﻧﻤﺎ ﺍﻟﺴﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ yang dimaksud Siyadah disini adalah Siyadah secara mutlak, maka pahamilah dan diteliti betul".

Jika anda masih mempertanyakan mengapa dalam Shalawat Ibrahimiyah pada Tahiyyat ditambah Sayyidina dan pada Tasyahhud tidak ada Sayyidina? Saya jawab: Mengatakan Sayyidina ini bertujuan memuliakan beliau. Dan perlu diingat memuliakan dan tatakrama itu lebih baik dari pada mengikuti perintah seperti Sayyidina Ali yang enggan menghapus kalimat "Rasulullah" dan berkata:

"Aku tak akan menghapusmu selamanya". Pada saat itu Rasulullah tidak menyalahkan Sayyidina Ali. Begitu juga Hadits Dlohhak dari Ibnu Abbas, bahwa dulu orang menyebut "Ya Muhammad", "Ya Abal Qosim", lalu Allah melarang demi memuliakan beliau.

Sementara jika yang anda permasalahkan dari ayat الله الصمد اي بمعنى سيد maka jawaban saya dari Kitab "Ibanatul Ahkam" juz 1 halaman 346:

"Bahwa kalimat Sayyid itu memiliki dua makna: Yang pertama tiada satupun yang mengungguli, dialah yang dituju manusia dalam segala hajat dan keinginan mereka. Sementara makna kedua yaitu yg tidak memiliki pencernaan yang mana ia tidak makan dan tidak minum".

Sementara dalam Syahadat, Ulama dalam memberikan penghormatan beragam dan jika tidak ada kata Sayyid-nya pastilah ada kata pujian lain pada kata sebelum dan sesudahnya. Itu terbukti setelah kata Muhammad dalam Syahadat ada kata pemuliaannya yaitu gelar "Utusan Allah", disanding dengan lafadz Allah yang sekaligus pencipta alam semesta. Bukankah Allah tidak akan menyandingkan namanya kecuali dengan kekasihnya? Dalam Kaidah Fiqih sangat mashur sekali:

مراعة الأدب خير من الإتباع

"Menjaga tatakrama lebih utama dari ittiba' (melaksanakan perintah)".

Dalam tulisan yang berbeda dijelaskan bahwa menambah lafazh “sayyid” sebelum menyebut nama Nabi adalah hal yang diperbolehkan karena kenyataannya beliau memang Sayyid al ‘Alamin; penghulu dan pimpinan seluruh makhluk. Jika Allah ta’ala dalam al Qur’an menyebut Nabi Yahya dengan :

وسيدا وحصورا ونبيا من الصالـحين – سورة آل عمران : 39

Padahal Nabi Muhammad lebih mulia daripada Nabi Yahya. Ini berarti mengatakan sayyid untuk Nabi Muhammad juga boleh, bukankah Rasulullah sendiri pernah mengatakan tentang dirinya :

أنا سيد ولد ءادم يوم القيامة ولا فخر

"Saya adalah penghulu (sayyid) manusia di hari kiamat." (HR. at-Turmudzi)

Jadi boleh mengatakan " اللهم صل على سيدنا محمد " meskipun tidak pernah ada pada lafazh-lafazh shalawat yang diajarkan oleh Nabi (ash-Shalawat al Ma’tsurah). Karena menyusun dzikir tertentu; yang tidak ma’tsur boleh selama tidak bertentangan dengan yang ma'tsur.

Sayyidina Umar dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim menambah lafazh talbiyah dari yang sudah diajarkan oleh Nabi, lafazh talbiyah yang diajarkan oleh Nabi adalah :

" لبيك اللهم لبيك، لبيك لا شريك لك لبيك، إن الحمد والنعمة لك والملك ، لا شريك لك "

Umar menambahkan :

"لبيك اللهم لبيك وسعديك ، والخير في يديك، والرغباء إليك والعمل"

Ibnu Umar juga menambah lafazh tasyahhud menjadi :

" أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له "

Ibnu Umar berkata : " وأنا زدتها " ; "Saya yang menambah وحده لا شريك له ". (H.R. Abu Dawud)

Karena itulah al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath al Bari, Juz. II, hlm. 287 ketika menjelaskan hadits Rifa'ah ibn Rafi', Rifa'ah mengatakan : Suatu hari kami sholat berjama’ah di belakang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ketika beliau mengangkat kepalanya setelah ruku’ beliau membaca : سمع الله لمن حمده , salah seorang makmum mengatakan: " ربنا ولك الحمد حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه " , maka ketika sudah selesai sholat Rasulullah bertanya : “Siapa tadi yang mengatakan kalimat-kalimat itu ?” , Orang yang mengatakan tersebut menjawab: Saya , lalu Rasulullah mengatakan :

" رأيت بضعة وثلاثين ملكا يبتدرونها أيهم يكتبها أول"

"Aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat berlomba untuk menjadi yang pertama mencatatnya".

al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan : “Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan;
– Bolehnya menyusun dzikir di dalam sholat yang tidak ma’tsur selama tidak menyalahi yang ma’tsur.
– Boleh mengeraskan suara berdzikir selama tidak mengganggu orang di dekatnya.
– Dan bahwa orang yang bersin ketika sholat boleh mengucapkan al Hamdulillah tanpa ada kemakruhan di situ”. Demikian perkataan Ibnu Hajar.

Jadi boleh mengatakan " اللهم صل على سيدنا محمد " dalam sholat sekalipun karena tambahan kata sayyidina ini tambahan yang sesuai dengan asal dan tidak bertentangan dengannya.

Diambil dari dua sumber di fiqhmenjawab.net: sumber 1 dan sumber 2


Share this article on
Today Quote:
When you see a person who has been given more than you in money and beauty, then look to those who have been given less.

Posted in taiwanhalal.com

Login to comment: Login/Register or