Mengonsumsi Tapai (Tape), Halalkah?

Posted on: Taiwan Halal / By Shinta Larasaty Santoso / Editor Shinta Larasaty Santoso / 2019-04-26 17:30:44 / 780 Views

Mengonsumsi Tapai (Tape), Halalkah?

Kandungan alkohol serta efek memabukkan membuat khamer diharamkan. Tidak berbeda dengan minuman khas Jepang, sake, yang terbuat dari ubi jalar rupanya juga diharamkan. 

Nah, sebagaimana kita tahu, tapai atau ada juga menyebut peuyeum yang terbuat dari ketan atau singkong  juga memiliki kandungan alkohol.  Wah halal gak ya? 

Pasalnya tapai sudah menjadi salah satu makanan  khas yang jadi favorit di masyarakat. Demi menikmati tapai ini, kadang banyak yang sengaja ‘menyeruput’ air tapai yang notabene hasil fermentasi itu. 

Bagaimana sih sebenarnya hukum mengonsumsi tapai menurut pandangan Islam? 

Hal pertama yang perlu dipahami bersama ialah, Komisi Fatwa MUI menjelaskan bahwa alkohol itu ada yang diharamkan namun ada pula yang tidak. Kemudian, khamer yang dibuat dan diproses dari anggung, secara asholah, maupun dari selain anggur (misalnya: tuak, sake di Jepang, atau minuman tradisional Sumatera) oleh Islam secara tegas diharamkan. Pasalnya, sejak awal proses pembuatan, mulai dari pengolahan, hingga proses fermentasi produk, sudah bertujuan untuk menghasilkan minuman yang memabukkan. Singkatnya, kegiatan tadi merupakan sebuah usaha memproduksi khamer. Sedangkan khamer, menurut kaidah fidqhiyyah, jika dikonsumsi baik dalam jumlah banyak maupun sedikit, hukumnya tetaplah haram. Tidak ada perdebatan, pun keraguan atas hal tersebut. 

Pendapat sebagian ulama, salah satunya pendapat Imam Syafi’i menyebut khamer adalah najis dan haram, didasarkan pada nash ayat yang menyebutnya “Rijsun”, yang artinya najis secara materi. Hal ini juga menjadi  kesepakatan para ulama Komisi Fatwa MUI yang bertujuan untuk memudahkan implementasi bagi masyarakat, sehingga dapat dijadikan kontrol untuk dapat sepenuhnya menghindari. 

Pendapat lain menyebutkan bahwa meskipun khamer itu haram, namun tidak najis. Ialah Imam Abu Hanifah yang berpendapat demikian dengan berdasar dari nash ayat yang sama: “Rijsun min ‘amalish-syaithon”.  Najis dimaknai sebagai perbuatan syaiton, atau dengan kata lain perbuatan yang keji. Landasan lain pendapat ini bersumber dari riwayat yang menyebutkan bahwa ketika turun ayat al-Quran yang mengharamkan khamer supaya membuang khamer yang dimilikinya, namun tidak diperintahkan untuk mencuci wadah atau bejana tempat khamer tadinya disimpan. 

Selanjutnya dijelaskan oleh Imam Abu Hanifah bahwa khamer pasti mengandung alkohol dan haram; tapi, alkohol belum tentu haram.  contohnya saja: durian yang sudah masak itu mengandung alkohol, makanya, ada orang yang mabuk lantaran tidak kuat memakannya. Begitu juga buah-buahan yang sudah masak lalu dibuat jus yang juga punya kandungan alkohol. Akan tetapi, mengonsumsi durian atau jus buah tidak diharamkan oleh para ulama. Nah, tapai rupanya juga masuk dalam kategori ini. Tapai memang mengandung alkohol, namun bukan khamer. Rasanya pun orang mengonsumsi tapai bukan sengaja dimaksudkan agar dirinya menjadi mabuk. Makanan atau minuman yang mengandung alkohol ini, oleh Imam Abu Hanifah bukan disebut sebagai khamer, melainkan Nabidz. 

Terkait dengan Nabidz, apabila Nabidz kemudian dapat menyebabkan mabuk bagi yang mengonsumsi, maka hukumnya menjadi haram. Namun tetap halal, apabila jika mengonsumsinya tidak menyebabkan menjadi mabuk; demikian papar Imam Abu Hanifah. 

Untuk para penikmat dan penggemar tapai berarti tidak perlu khawatir ya. Halal kok mengonsumsi tapai, tapi tidak berlebihan juga ya. Sebab apapun yang berlebihan tidaklah baik, bukan? 

Demikian semoga bermanfaat. 

 

Rujukan: 

HalalMUI dalam artikel “Tapai, Halalkah Dikonsumsi?”, dimuat pada 15 April 2019 


Share this article on
Today Quote:
When you see a person who has been given more than you in money and beauty, then look to those who have been given less.

Posted in taiwanhalal.com

Login to comment: Login/Register or