Arti dan Bahaya Bergunjing (Gibah) sehingga Sampai Diharamkan

Posted on: Taiwan Halal / By Shinta Larasaty Santoso / Editor Shinta Larasaty Santoso / 2019-04-24 18:41:14 / 770 Views

Arti dan Bahaya Bergunjing (Gibah) sehingga Sampai Diharamkan

Godaan untuk berkomentar tentang orang lain memang kadang begitu kencang. Terlebih terkait perilaku atau sikapnya yang tidak cocok menurut pandangan kita. Islam sendiri membahas tentang hal ini khususnya tentang mengumpat atau gibah. Dijelaskan dalam Q.S. al-Hujurat [49]: 12, Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seseorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. 

Konsep menggunjing (gibah) juga disampaikan dan diajarkan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya melalui tanya jawab. Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian mengetahui, apa itu gibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah melanjutkan, “Engkau membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya.” Seorang sahabat pun bertanya, “Bagaimana menurutmu jika aku membicarakan sesuatu yang benar-benar ada pada saudaraku?” Rasul menjawab, “Meskipun yang engkau ceritakan itu benar-benar ada pada saudaramu, tetap saja termasuk gibah. Lain halnya jika apa yang engkau bicarakan itu tidak ada pada saudaramu, maka dengan begitu engkau telah berdusta.” (HR. Muslim; 2589) Artinya engkau telah berbuat dusta terhadapnya. 

Berbagai perkara mungkin tidak disukai seseorang seperti perkara yang berhubungan dengan postur tubuh, akhlak, keturunan, dan perkara spesifik lain yang berhubungan dengan dirinya. 

Diriwayatkan oleh Aisyah bahwa dirinya pernah berkata kepada Rasulullah., “Engkau mungkin cukup puas dengan Shafiyah (Istri Nabi) yang begini-begini.” Maksudnya, postur tubuh Shafiyah yang pendek. Rasul pun menjawab., “Engkau telah mengucapkan suatu perkataan yang seandainya dicampurkan dengan air laut, pasti air laut itu akan bercampur (berubah).” (HR. Ahmad; 25560) 

Pada dasarnya, gibah sendiri merupakan keinginan untuk merusak kehormatan, kemuliaan, dan harga diri orang lain. Akan tetapi hal tersebut dilakukan di belakang orang-orang yang dibicarakannya. Hal ini sekaligus menjadi bukti kepicikan dan kelicikan, karena seakan-akan menikam dari belakang. Inilah salah satu perbuatan yang sangat buruk, karena gibah sama halnya dengan menyerang orang yang tidak berdaya. Merupakan suatu alat penghancur karena dengan digunjing, sedikit sekali orang yang selamat darinya tanpa ada terlihat tikaman dan lukanya. 

Gambaran AL-Quran tentang perbuatan gibah yang diumpamakan memakan bangkai saudara sendiri rasanya cukup menggetarkan hati jika kita resapi. Coba saja kita bayangkan, siapa yang tidak jijik memakan daging manusia, lebih-lebih yang dimakan itu adalah daging saudaranya sendiri, pun yang telah meninggal dunia.  

Rasulullah pada tiap kesempatan sampai-sampai menguatkan gambaran tentang gibah sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Quran, tidak lain agar hal itu melekat dalam pikiran dan hati. 

Diceritakan oleh Ibnu Mas’ud, “Sewaktu kami bersama Rasulullah, tiba-tiba bangkitlah seorang laki-laki lalu meninggalkan majelis. Selepas lelaki tadi pergi, lelaki yang lain lalu mengumpatnya. Rasul pun segera menegur lelaki yang mengumpat itu dengan berkata, “Berselilitlah kamu!” lelaki yang tadi mengumpat pun penasaran dan bertanya kepada Rasul, “mengapa aku harus berselilit, sedangkan aku tidak habis makan daging?” Rasul menjelaskan, “Sesungguhnya engkau talah memakan daging saudaramu.” (HR. Al-Thabrani; 10092) 

Dalam hadits lain diriwayatkan, “Sewaktu kami tengah bersama Rasulullah, tiba-tiba berembuslah angin yang berbau busuk. Rasul kemudian bertanya, ‘Apakah kalian tahu angin yang bau ini? Ini adalah angin dari orang-orang yang menggunjing para mukmin.’” (HR. Ahmad; 14784) 

Semoga kita sebisa mungkin dapat menghindari perilaku-perilaku yang tidak terpuji dan senantiasa memiliki hubungan baik dengan sesama. Aamiin. 

 

 

Rujukan:    

Al-Halal wa al-Haram fi al-Islam, Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawi   


Share this article on
Today Quote:
And when the foolish address them (with bad words) they reply back with ‘Salamaa’ (peaceful words of gentleness) (Qur’an, 25:63)

Posted in taiwanhalal.com

Login to comment: Login/Register or