Halalkah Mengganti Uang Kembalian dengan Permen?

Posted on: Taiwan Halal / By Shinta Larasaty Santoso / Editor Shinta Larasaty Santoso / 2019-04-22 18:02:28 / 468 Views

Halalkah Mengganti Uang Kembalian dengan Permen?

Ketika melakukan transaksi, mungkin kita pernah menerima kembalian dalam bentuk permen sebagai pengganti uang. Namun, terkadang pihak penjual tidak meminta persetujuan terlebih dahulu kepada konsumen jika uang kembaliannya akan digantikan dengan permen.

Bagaimanakah Islam memandang kegiatan jual beli ini?

Menukar uang kembalian dengan permen yang kita temui, dikenal sebagai akad istibdal an-dain (barter atas sebuah tanggungan) yang sudah keluar dari konsep jual beli yang pertama. Maksudnya adalah, ketika konsumen membayar barang yang dibelinya sesuai dengan nominal harga, maka transaksi telah dianggal telah selesai. Kemudian apabila konsumen membayarkan uang melebihi harga barang, kondisi ini menjadi tanggungan (dain) bagi pembeli. Tanggungan tadilah yang disebut objek akad istibdal.

Pandangan ulama tentang akad istibdal dari sebuah tanggungan merupakan hal yang sah dan legal menurut hukum Islam. Hanya saja perlu diingat bahwa dalam akad muamalah. Istibdal memerlukan sebuah shighat (ucapan serah terima), sebagaimana akad muamalah yang lain; karena shighat inilah yang menandakan adanya keridhaan baik dari pihak penjual maupun konsumen atas kegiatan yang dilakukan.

Apabila dalam sebuah kegiatan jual-beli, penjual terlebih dahulu menanyakan kesediaan konsumen apabila uang kembaliannya diganti permen, lalu konsumen pun bersedia maka para ulama bersepakat pada proses tersebut sudah terdapat shighat.

Bagaimana apabila dalam praktiknya tidak ada kesepakatan antara penjual dan pembeli tentang penggunaan permen sebagai pengganti uang kembalian, maka akad ini dapat tetap sah apabila mengacu pada pendapat ulama yang memperbolehkan mu’athah. Mu'athah sendiri oleh Abi Bakr bin Sayyid Muhammad Syatha’ dipaparkan sebagai berikut.

ـ (والحاصل) المعاطاة: هي أن يتفق البائع والمشتري على الثمن والمثمن، ثم يدفع البائع المثمن للمشتري، وهو يدفع الثمن له، سواء كان مع سكوتهما، أو مع وجود لفظ إيجاب أو قبول من أحدهما، أو مع وجود لفظ منهما لكن لا من الالفاظ المتقدمة

“Kesimpulan. Mu’athah ialah sepakatnya penjual & pembeli atas harga barang yang dihargai lalu penjual memberikan berang ke pembeli & pembeli memberikan nominal uang pada penjual. Baik dalam keadaan keduanya sama-sama diam maupun ada ucapan serah terima dari salah satunya, atau ada perkataan dari keduanya tapi bukan berupa perkataan yang biasa berlaku dalam jual-beli.” (Sayyid Abi Bakr bin Sayyid Muhammad Syatha’, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 3, h. 8)

Dalam masalah istibdal, dapat digunakan pula perbedaan pendapat dalam hal mu’athah. Jadi, menukar uang kembalian dengan permen hukumnya tetap sah menurut sistem mu’athah walaupun tanda persetujuan dari pembeli atau konsumen. Yang menjadi catatan ialah selagi tidak adanya protes dari konsumen. Apabila ternyata konsumen keberatan uang kembaliannya ditukar dengan permen, maka penjual harus membayar kembalian sesuai dengan nominal yang seharusnya diterima pembeli/konsumen.

Dijelaskan oleh Syeikh Sulaiman al-Jamal mengenai istibdal dengan cara mu’athah

ـ (وصح استبدال ولو في صلح عن دين غير مثمن بغير دين) كثمن في الذمة (ودين قرض وإتلاف) ـ

ـ (قوله وصح استبدال إلخ) بشرط أن يكون الاستبدال بإيجاب وقبول وإلا فلا يملك ما يأخذه قاله السبكي وهو ظاهر وبحث الأذرعي الصحة بناء على صحة المعاطاة ا هـ

“Istibdal dapat sah meskipun dalam permasalahan shuluh, atas tanggungan selain berupa barang yang dibeli dengan selain hutang (cash), seperti pada harga barang yang masih dalam tanggungan dan tanggungan hutang dan tanggungan karena telah merusak barang.”

“Keabsahan istibdal ini dengan syarat wujudnya ucapan serah terima. Jika tidak terdapat ucapan demikian berarti seseorang tidak dapat memiliki barang yang diambil olehnya (dari orang lain). Penjelasan demikian seperti yang disampaikan oleh Imam as-Subki, dan hal tersebut dianggap jelas. Namun Imam al-Adzra’i berpandangan bahwa istibdal tetap sah dengan berpijak pada pendapat yang melegalkan mu’athah.” (Syekh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, juz 11, hal. 229)

Dapat disimpulkan bahwa mengganti uang kembalian dengan permen hukumnya adalah sah selama tidak ada protes dari pembeli. Meski demikian, tidak dianjurkan bagi penjual mengganti uang kembalian dengan permen sementara ia memiliki uang kembalian dan penjual belum dapat memastikan pula apakah pembeli sepenuhnya ridha dengan penggantian tersebut.

Wallahu’alam.

 

Rujukan: Ustadz Ali Zainal Abidin dalam “Uang Kembalian Ditukar dengan Permen, Bolehkah?”. Dimuat dalam nu.or.id 17 Januari 2019


Share this article on
Today Quote:
An adulterer will not commit adultery when he has full faith (in Allah), and a thief will not steal when he has full faith (in Allah) -- Ibn Majah

Posted in taiwanhalal.com

Login to comment: Login/Register or