Meski Diperbolehkan, Poligami Juga Bisa Jadi Haram

Posted on: Taiwan Halal / By Shinta Larasaty Santoso / Editor Shinta Larasaty Santoso / 2019-04-10 17:08:40 / 1252 Views

Meski Diperbolehkan, Poligami Juga Bisa Jadi Haram

Seirama dengan fitrah, sejalan dengan keadaan, mendidik, dan menjauhi sifat gegabah menjauhi batas, menjadi beberapa latar belakang diperbolehkannya poligami dalam Islam. Rasulullah dalam sabdanya menjelaskan, 

“Pilihlah empat perempuan saja dan ceraikanlah yang lainnya” (HR. Ahmad; 4609) 

Pada zaman dahulu sebelum masuknya ajaran Islam, tidak sedikit umat yang membolehkan praktik poligami dengan memperistri perempuan sebanyak-banyaknya, tanpa terikat aturan tertentu. Namun setelah itu, praktik  poligami kemudian dibatasi oleh beberapa ketentuan. Bukan hanya sekadar jumlah istri, namun lebih lanjut ada ketentuan lain yang apabila dilanggar, membuat hukum poligami yang diperbolehkan, menjadi haram. 

Syarat kebolehan poligami: adil 

Syariat Islam menetapkan beberapa syarat bagi seorang muslim yang hendak berpoligami. Di antara beberapa syarat yang dimaksud ialah memastikan bahwa dirinya mampu bersikap adil kepada para istri. Adil di sini termasuk dalam hal makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, giliran menginap, juga urusan memberi nafkah. 

Syarat adil tadi mengandung arti bahwa siapa saja yang tidak dapat memastikan bahwa dirinya akan mampu memenuhi hak-hak para istrinya dengan adil dan seimbang, maka haram baginya berpoligami. Allah swt. pun berfirman, 

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً 
“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, (Q.S. an-Nisa [4]: 3) 

Diperjelas pula oleh sabda Rasulullah,  

مَنْ كَانَ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ 

Barangsiapa mempunyai dua orang istri, dan dia lebih cenderung kepada yang satunya, maka pada hari kiamat dia akan datang menyeret salah satu lambungnya dalam keadaan terjatuh atau miring.” (HR. Ahmad; 7936) 

Kecenderungan yang dimaksud Rasulullah dalam hadits tadi ialah berlaku zalim pada hak-hak istrinya, bukan saja kecenderungan hati. Sebab kecenderungan hati tidak mungkin terpenuhi. Karena itu, ketidakadilan tersebut merupakan ketidakadilan yang dimaafkan oleh Allah dan diberi kemurahan. Allah swt. telah berfirman dalam surat an-Nisa ayat 129, 

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا 

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 

Doa berikut pun Rasulullah ucapkan setelah melakukan pembagian dan memberi giliran kepada para istrinya dengan adil, 

"Ya Allah, inilah pembagianku yang mampu aku lakukan. Maka janganlah Engkau menghukum aku dalam urusan yang mampu Engkau lakukan, tetapi tidak mampu aku lakukan.” (H. Ahmad; 2134) 

Perkara yang dimaksud tidak mampu beliau lakukan adalah urusan hati dan kecenderungan perasaan kepada salah seorang istrinya. 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari (No.2688) diceritakan bahwa manakala akan bepergian, beliau melakukan undian di tengah para istrinya. Siapakah di antara mereka keluar dalam undian, maka bersamanyalah beliau berangkat. Cara tadi dilakukan demi menghindari kekecewaan hati para istri sekaligus menjadi cara yang menyenangkan bagi semua. 

Alangkah lebih baik ketika akan berpoligami, terlebih dahulu mempertimbangkan baik buruk berbagai aspek yang akan diterima baik pihak istri maupun suami. Apakah manfaat yang didapat lebih banyak, atau justru malah mendatangkan masalah baru bagi kehidupan rumah tangga.  

Wallahu'alam. 

 

Rujukan:    

Al-Halal wa al-Haram fi al-Islam, Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawi 


Share this article on
Today Quote:
Whoever is offered an apology from a fellow Muslim should accept it unless he knows that the person apologizing is being dishonest (Hadith no. 5052, Mishkat al Tabrizi, Vol 3)

Posted in taiwanhalal.com

Login to comment: Login/Register or