Makna Peribahasa “Diam itu Emas” Menurut Hadits

Posted on: Taiwan Halal / By Shinta Larasaty Santoso / Editor Shinta Larasaty Santoso / 2019-03-20 18:35:28 / 5553 Views

Makna Peribahasa “Diam itu Emas” Menurut Hadits

Sering dengar peribahsa “Diam itu Emas”?  
Nah, ternyata diam itu lebih utama dari 4 empat perkara lho. Hal itu juga dijelaskan dalam sabda-sabda Rasulullah. 
 

Rasulullah bersabda: 

  1. Shalat adalah tiang agama, namun diam lebih utama. 
  2. Sedekah dapat memadamkan murka Tuhannamun diam lebih utama. 
  3. Puasa adalah perisai dari siksa nerakanamun diam lebih utama. 
  4. Jihad adalah puncaknya keutamaan agama, namun diam lebih utama. 

Apakah maksudnya?  
Shalat sebagai tiang agama berarti kekuatan agama seseorang sangat bergantung pada shalat. Shalat merupakan bukti penghambaan paling konkret manusia kepada Allah. Shalat juga sebuah bentuk penunaian hak kepada Tuhan yang telah memelihara alam semesta. Tapi, tidak hanya shalat, pada dasarnya semua ibadah adalah sarana manusia untuk mencapai substansi kehambaan. 

Diam yang dimaksud ialah menghindarkan diri dari pembicaraan yang tidak bermanfaat bagi kepentingan dunia maupun kepentingan agama serta tidak membalas kata permusuhan. Banyak dosa dan kesalahan yang timbul akibat ucapan lisan, oleh karena itu diam termasuk ibadah yang paling tinggi tingkatannya. Tapi, apabila diamnya karena alasan mengasingkan diri dari pergaulan, hal itu tidak termasuk dari ibadah, lho. 

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Diam itu ibadah yang paling tinggi”. (HR. Ad-Dailami) 

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda, “Diam adalah perhiasan orang alim dan penutup bagi orang bodoh.” (HR. Abu asy-Syaikh) 

Pernyataan dalam hadits di atas cukup beralasan sebab diam itu melahirkan kewibawaan, sebuah pertanda bahwa seseorang berilmu. Bahkan selama orang itu diam, kebodohannya akan tertutupi. 

Dari Anas ra.rasulullah bersabda, “Diam itu akhlak yang paling utama.” (HR. Ad-Dailami). 

Diam disebut menjadi akhlak yang paling utama karena pelakunya menghindari pembicaraan yang tidak menghasilkan pahala sehingga ia selamat dari dosa akibat ghibah dan sebagainya. Namun, masih sedikit orang yang mau menahan diri dari pembicaraan yang tidak berfaedah dan hal yang sia-sia.  

Sebagai catatan, diam juga tidak selamanya menjadi akhlak yang paling utama karena zikir, membaca al-Quran, atau diskusi tentang ilmu agama jauh lebih baik dari diam. 

Dari Ibn Umar ra., bahwa Rasulullah bersabda, “Diam itu hikmah, namun sedikit sekali yang melakukannya.” (HR.Qadha’i) 

Hadits tersebut juga diriwayatkan ad-Dailami dari Anas ra. Yang dimaksud “diam itu hikmah” mempunyai arti mengandung manfaat dan menghindarkan seseorang dari sifat bodoh. 

Sebuah ungkapan penyair tentang diam: 

Wahai orang yang banyak bicara, kurangilah sedikit 
Sungguh engkau telah bicara panjang-lebar 

Sungguh engkau telah andil dalam keburukan 
Sekarang diamlah jika engkau ingin kebaikan. 

Dalam hadits lain Rasulullah juga mengungkapkan, “Jihad yang utama adalah menaklukkan hawa nafsumu untuk tunduk pada Dzat Allah.” (HR. ad-Dailami) 
 
 
Rujukan: Kitab Nashaihul ‘Ibad 


Share this article on
Today Quote:
Nothing shall be legitimate to a Muslim which belongs to a fellow Muslim unless it was given freely and willingly. Do not, therefore, do injustice to yourselves (hadits)

Posted in taiwanhalal.com

Login to comment: Login/Register or