Hukum Aborsi atau Menggugurkan Kandungan

Posted on: Taiwan Halal / By Shinta Larasaty Santoso / Editor Shinta Larasaty Santoso / 2019-02-20 16:42:28 / 162 Views

Hukum Aborsi atau Menggugurkan Kandungan

Memiliki buah hati merupakan sesuatu yang dinanti bagi pasangan suami istri pada umumnya. Namun pada beberapa kejadian, kehamilan merupakan hal yang tidak diharapkan. Baik pada pasangan yang menikah secara sah maupun pasangan yang belum menikah. Lantas bagaimanakah Islam menanggapi fenomena tersebut? 

Meskipun Islam memperbolehkan umatnya untuk mengatur atau mencegah kehamilan karena sejumlah alasan, namun Islam tidak memberikan sedikit pun celah untuk berlaku jahat terhadap kehamilan, setelah dipastikan benar-benar hamil. Meskipun kehamilan tersebut disebabkan oleh hubungan haram atau hubungan di luar nikah, Rasulullah tetap menerapkan hukuman had kepada perempuan yang hamil karena perzinahannya sampai dia melahirkan janinnya  dan menyempurnakan masa menyusuinya. Karena tidak ada dosa apa-apa untuk menunda hukuman tersebut. 

Ulama fiqih bersepakat bahwa menggugurkan janin setelah ditiupkan ruh kepada janin tersebut, hukumnya adalah haram dan sebuah bentuk kejahatan. 

Tidak lah halal bagi seorang muslim untuk melakukannya. Perbuatan itu tetap dianggap sebagai kriminalitas terhadap makhluk hidup, wujudnya sudah sempurna, dan sudah memperlihatkan kehidupan. Menurut mereka, siapa pun yang menggugurkan kandungan, maka dia dikenakan hukuman diyatbila janin yang digugurkannya keluar dalam keadaan hidup lalu meninggal. Hanya saja hukuman diyat menjadi lebih ringan manakala janin yang keluarnya sudah meninggal. 

Akan tetapi, para ulama fiqih berpendapat, seandainya melalui cara-cara yang dapat dipastikan bahwa apabila janin yang ada dalam rahim seorang ibu itu tetap dipertahankan—walaupun sudah hidup—justru akan menyebabkan kematian pada ibu janin tersebut, maka syariat dengan kaidah-kaidah umumnya memerintahkan untuk menempuh jalan yang lebih ringan bahayanya. Artinya, keadaan janin itu justru akan menyebabkan kematian pada ibunya, sedangkan tidak ada pilihan lain selain menggugurkannya, maka dalam kondisi demikian pilihan itulah yang harus diambil. Demi menyelamatkan si anak, si ibu tidak  boleh dikorbankan. Sebab, bagaimana pun ibu adalah pokok. Kehidupannya diakui. Dia juga memiliki bagian tersendiri dalam kehidupan itu. Dia memiliki sejumlah hak yang harus dipenuhi. Dia adalah tiang di dalam keluarganya. 

Oleh karena itu tidak lah masuk akal ketika seorang ibu harus dikorbankan demi keselamatan hidup seorang janin yang belum diakui kehidupannya sekaligus belum memperoleh hak dan kewajiban (Syekh Syaltut, al-Fatawa, hal. 264). 

Hal serupa berlaku juga apabila setelah diperiksa secara ilmiah, janin dalam kandungan akan terlahir dalam keadaan cacat. Sehingga jika janin itu dipertahankan, dia akan hidup dalam penderitaan yang hebat, baik pada dirinya maupun kepada orang-orang sekitarnya. Dalam kondisi demikian, kaidah-kaidah syara’ tidak melarang untuk menggugurkannya. Namun tindakan penggugurannya dibatasi pada awal-awal kehamilan, yaitu sebelum janin berumur empat bulan dalam kandungan. 

Menurut Imam al-Ghazali, terdapat perbedaan antara mencegah kehamilan dengan menggugurkan kehamilan. Menurutnya, mencegah kehamilan tidak seperti menggugurkan atau membunuh. Sebab, menggugurkan atau membunuh kandungan adalah tindak kejahatan kepada manusia yang sudah wujud. Adapun wujudnya bertingkat-tingkat. 

Tingkatan pertama adalah masuknya sel sperma ke dalam rahim lalu bertemu dengan sel telur perempuan, untuk kemudian mempersiapkan diri guna menerima kehidupan. Merusak sel sperma yang sudah bertemu dengan sel telur ini sudah dikategorikan sebagai kejahatan. 

Pertanyaannya, bagaimana jika sudah berbentuk segumpal darah atau segumpal daging? Tentu unsur pidananya lebih besar. Apalagi bila si janin sudah ditiupkan ruh kepadanya dan penciptaannya sudah sempurna, kejahatannya pasti lebih besar lagi. Dan puncak dari kejahatannya terjadi pada janin yang sudah lahir dan dalam keadaan hidup. 

 

Rujukan:  
Al-Halal wa al-Haram fi al-Islam, Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawi 


Share this article on
Today Quote:
All mankind is from Adam and Eve, an Arab has no superiority over a non-Arab nor a non-Arab has any superiority over an Arab. (hadits)

Posted in taiwanhalal.com

Login to comment: Login/Register or