Prostitusi dalam Kacamata Hukum Islam

Posted on: Taiwan Halal / By Shinta Larasaty Santoso / Editor Faisal Fahmi / 2019-02-12 16:25:51 / 54 Views

Prostitusi dalam Kacamata Hukum Islam

Bekerja merupakan kegiatan mulia. Namun, ada juga pekerjaan atau perusahaan yang diharamkan Islam bagi umatnya. Pasalnya, sejumlah bahaya yang ada dalam pekerjaan tersebut dapat merusak akhlak, akidah, kehormatan, maupun sendi-sendi keturunan.

Mayoritas negara Barat, pelacuran adalah salah satu pekerjaan yang diperbolehkan. Negara-negara Barat memberikan izin dan dispensasi kepada para pekerja seks, memberi jaminan, serta memenuhi hak-hak mereka. Bagaimana dengan Islam? Islam menolak keras kegiatan tersebut. Tidak membolehkan sedikit pun pada orang merdeka maupun budak, untuk bekerja menggunakan kemaluannya.

Sebagian orang Jahiliah menetapkan upah harian para budak yang harus disetor kepada para majikan. Oleh orang tuanya, para budak itu dipekerjakan sebagai pekerja seks dengan upah tertentu. Bahkan tak jarang para tuanmemaksa para budak perempuan mereka demi mendapat keuntungan dunia dari pekerjaan yang murah tersebut.

Begitu Islam datang, martabat mereka diangkat dari lembah kehinaan. Dalam riwayatnya Jabir menjelaskan bahwa dua budak perempuan ‘Abdullah ibn Salul yang bernama Musikah dan Amimah dipaksa untuk menjadi pekerja seks. Namun kedua budak itu mengadu kepada Rasulullah, lalu turunlah firman Allah yang menyatakan, Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu, (Q.S an-Nur [24]: 33) atas dasar itu, Rasulullah melarang pekerjaan tersebut apapun motifnya. Bahkan, tidak ada toleransi apapun untuk melakukannya, sekalipun atas alasan butuh, terpaksa atau mencapai tujuan. Tentu pelarangan ini memiliki tujuan, yakni menjaga masyarakat Islam agar tetap bersih dari kotoran dan pekerjaan yang membahayakan.

Bagaimana dengan prostitusi di Indonesia? Masalah prostitusi bukanlah fenomena baru di masyarakat. Berbagai latar belakang menjadi sebab munculnya prostitusi di berbagai kalangan. Latar belakang terpaksa karena tidak punya pekerjaan lain kah? Nampaknya bukan. Karena tidak jarang mereka yang terciduk juga sebenarnya memiliki pekerjaan lain dan tidak dalam keadaan serba kekurangan. Kini, sedang ramai menjadi perbincangan ialah prostitusi online. Mari kita lebih jauh membahas bagaimana pandangan Islam menganai hal ini.

Islam, sejak awal memberikan penghormatan yang tinggi kepada kaum perempuan. Bahkan, ketika Rasulullah ditanya oleh salah seorang sahabat “Siapakah orang yang paling wajib dihormati?” Jawab Rasul ialah “Ibumu”, pertanyaan tersebut diulang tiga kali dan Rasul menjawab hal yang sama yakni “Ibumu”. Barulah ketika ditanya keempat kalinya, Rasul menjawab “Ayahmu”. Dari hadits berikut jelas lah bahwa betapa Islam begitu menghormati kaum wanita. Prostitusi secara langsung ataupun tidak, telah merendahkan martabat kaum wanita itu sendiri.

Prostitusi atau zina dalam perspesktif hukum Islam tidak disebutkan secara implisit menyebut prostitusi dalam nomenklatur. Prostitusi adalah penyediaan layanan seksual yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan untuk mendapatkan uang atau kepuasan. Dalam bahasa Arab prostitusi atau pelacuran diartikan sebagai zina. Kata zina dalam bahasa arab adalah bai’ul irdhi yang artinya menjual kehormatan. Jadi, pelacuran bisa juga disebut dengan penjualan kehormatan dan orang yang melacur bisa disebut dengan penjual kehormatan. Berkaitan dengan masalah hukum prostitusi atau perzinaan, Allah memberikan penjelasan dalam Al-Qur’an sebagai berikut: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk”. (Q.S Al-Isra’ [17] : 32).

Dari ayat tersebut, hukum prostitusi adalah haram. Seperti diriwayatkan dalam hadist berikut : “Dari Umar Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Kalau kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, maka niscaya Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung; ia pergi pagi hari dalam keadaan perutnya kosong, lalu pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang”. ( HR Tirmidzi, no. 2344; Ahmad (I/30); Ibnu Majah, no. 4164)

Dapat kita jumpai pula Perintah Allah dalam Al Qur’an: "Maka apabila shalat telah selesai dikerjakan, bertebaranlah kamu sekalian di muka bumi dan carilah rezeki karunia Allah". (Al Jumu’ah : 10)

Sebenar-benar tawakkal di sini artinya benar-benar menjalankan perintah Allah, menempuh jalan yang Diridloi-Nya dan menghindari yang haram. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah, semoga kita senantiasa dimudahkan menemui pintu-pintu rezeki dari jalan yang Allah ridhoi. Aamiin.

Rujukan:
1) Al-Halal wa al-Haram fi al-Islam, Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawi
2) Prostitusi dan Perzinahan dalam Hukum Islam. Mia Amalia dalam Jurnal Peradaban dan Hukum Islam.


Share this article on
Today Quote:
Born from different mothers skins of all colours come together as brothers . that’s the beauty of Islam.

Posted in taiwanhalal.com

Login to comment: Login/Register or