Bahaya Sombong dan Membanggakan Diri dalam Berpakaian

Posted on: Taiwan Halal / By Shinta Larasaty Santoso / Editor Shinta Larasaty Santoso / 2019-01-25 17:06:22 / 120 Views

Bahaya Sombong dan Membanggakan Diri dalam Berpakaian

Pada momen-momen tertentu, mengenakan pakaian yang dirasa spesial mungkin kerap kita lakukan. Islam sendiri tidak melarang kita untuk mengenakan pakaian yang kita sukai dan pantas dikenakan. Namun, kepantasan itu tentu ada batasannya.

Tidak berlebihan dan tidak menyombongkan diri merupakan ketentuan yang berlaku umum dalam menggunakan perkara yang halal dan baik. Hal itu berlaku pula pada pakaian, minuman, maupun dandanan.

Berlebihan yang dimaksud sendiri adalah melampaui batas kebolehan dalam menggunakan perkara halal. Adapun menyombongkan diri maksudnya sesuatu yang berhubungan perkara lahir. Tujuannya biasanya untuk bermewah-mewah dan menunjukkan apa yang dimiliki kepada orang lain. Padahal Allah tidak menyukai orang yang sombong, Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (Q.S. al-Hadid [57]: 23)

Rasulullah pun pernah bersabda, “Siapa saja yang menggunakan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat.” (HR. Bukhari; 5784)

Demi umatnya terhindar dari sikap sombong, maka Rasulullah melarang umatnya menggunakan pakaian yang mewah dan berlebihan, yang dengan pakaian itu seseorang merasa angkuh dan berbangga diri di hadapan orang lain.

Hadits lain menyebutkan, “Siapa saja yang mengenakan pakaian mewah di dunia, maka Allah akan memakaikan pakaian kehinaan pada hari kiamat, yang kemudian menjilatkan api kepadanya.” (HR. Ahmad; 5664)

Dikisahkan ada seorang lelaki bertanya kepada Ibnu  ‘Umar tentang pakaian yang harus dikenakannya. Ibnu ‘Umar lalu menjawab, “Pakaian yang sekiranya engkau tidak dilecehkan oleh orang-orang bodoh dan tidak dicela oleh kaum filsuf.” (HR. al-Thabrani)
Maksudnya adalah pakaian yang tidak mengurangi atau melebihi batas kepantasan.

Di lain pihak, berlebihan dalam berpakaian juga mungkin saja membuka peluang terjadinya hal-hal buruk lain, misalnya membuat orang lain terkesima hingga ia berandai-andai “ah andai aku punya baju sebagus dia”,  “beruntung sekali dia bisa punya baju semewah itu, kalau aku mana mungkin”; dan sebagainya lalu menjadi tidak mensyukuri atas apa yang telah dimiliki.

Tentu kita tidak ingin menjadi sebab dari ketidakbersyukuran orang lain atas nikmat yang sudah ia miliki, bukan?

Nah, semoga kita terhindar dari sikap berlebih-lebihan dan menyombongkan diri. Karena sejatinya, akhlak yang baik lebih berharga dari pakaian mewah mana pun. Semoga bermanfaat!

 

Rujukan: Al-Halal wa al-Haram fi al-Islam, Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawi


Share this article on
Today Quote:
Whoever is offered an apology from a fellow Muslim should accept it unless he knows that the person apologizing is being dishonest (Hadith no. 5052, Mishkat al Tabrizi, Vol 3)

Posted in taiwanhalal.com

Login to comment: Login/Register or