Haram, Berselisih karena Warna Kulit dan Garis Keturunan
"Rasis". Nampaknya hal yang lumayan sering kita temui di kehidupan sekitar kita. Entah dalam interaksi sosial secara langsung maupun tidak langsung seperti di social media. Fenomena mencemooh seseorang atau golongan tertentu menjadi kian mengkhawatirkan. Tujuannya mungkin macam-macam, karena terlampau bangga dengan diri, meraih simpati, dendam, atau mungkin juga demi mencapai tujuan tertentu lainnya.
Berselisih karena warna kulit dan garis keturunan tentu tidak terasa nyaman. Lalu bagaimana Islam memandang hal ini?
Diriwayatkan Al-Bukhari tentang Abu Dzar dan Bilal al-Habsyi yang terlibat permusuhan. Ketika itu, Abu Dzar berkata kepada Bilal, “Hai anak perempuan hitam?” Begitu mendengar pernyataan Abu Dzar, Bilal mengadukannya kepada Nabi saw. Nabi saw. pun berkata kepada Abu Dzar, “Wahai Bilal, apakah engkau mencaci bilal karena ibunya? Jika demikian, sesungguhnya engkau masih diliputi perasaan Jahiliah.” (H.R al-Bukhari, no.30)
Kesimpulannya, Islam mengharamkan setiap muslim yang masih menuruti perasaan Jahiliah, terutama yang sifatnya menyombongkan diri karena nasab, keturunan, ayah, dan seterusnya. Seperti pernyataan yang dilontarkan satu sama lain, “aku anak si fulan, aku keturunan si fulan, sedangkan kamu berasal dari keturunan si fulan. Aku berkulit putih, sedangkan kulitmu hitam. Aku orang Arab, dan kamu bukan orang Arab.”
Apa lah artinya keturunan itu jika berasal dari nenek moyang yang sama. Apakah lantas karena keturunan menjadi bertambah amalan kita? Atau apa dosanya jika berasal dari keturunan ini dan keturunan itu?
Rasulullah saw. bersabda.”Sesungguhnya nasab-nasabmu itu tidak menjadi sebab kamu boleh mencaci seseorang. Kalian semua adalah anak-cucu Adam. Tak satu pun mereka melebihi yang lain, kecuali karena agama dan ketakwaannya.” (H.R Ahmad, no.17446)
Sesungguhnya tidak ada kelebihan bagi warna kulit putih atau hitam, sebagaimana tidak ada keunggulan yang satu daripada yang lain melainkan karena ketakwaannya. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Hujurat [49]:13, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.”
Rujukan: Al-Halal wa al-Haram fi al-Islam, Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawi
Share this article on
Today Quote:
When we repair our relationship with Allah, He repairs everything else for us.
Posted in taiwanhalal.com

