Tak Hanya Halal, Makanan Umat Islam Harus Penuhi Satu Syarat Ini Juga

Posted on: Taiwan Halal / By Fera Nur Aini / Editor Fera Nur Aini / 2018-05-24 20:37:34 / 398 Views

Tak Hanya Halal, Makanan Umat Islam Harus Penuhi Satu Syarat Ini Juga

Makanan seperti apa yang diperbolehkan untuk dikonsumsi dalam agama Islam? Tentu banyak yang menjawab syarat utamanya adalah makanan yang halal (diperbolehkan). Padahal tak hanya halal saja, makanan yang dikonsumsi umat Muslim pun hendaknya makanan yang baik. Sesuai dengan firman Allah dalam ayat-ayat berikut ini,

“Hai sekalian manusia, makanlah yang HALAL LAGI BAIK dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah ayat 168)

“Dan makanlah makanan yang HALAL LAGI BAIK dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya." (Q.S. Al-Maidah ayat 88)

“Maka makanlah yang HALAL LAGI BAIK dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah ni’mat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah." (Q.S. An-Nahl ayat 114)

Ketiga ayat tersebut sama-sama menyebutkan dengan jelas kata "baik", bukan hanya halal saja.

Lalu, seperti apakah makanan yang "baik" itu?

Kata thayyib berasal dari bahasa Arab yaitu "thaba" yang artinya baik, lezat, menyenangkan, enak dan nikmat atau berarti pula bersih atau suci. Quraish Shihab menyatakan bahwa kata thayyib dari segi bahasa berarti lezat, baik, sehat, menenteramkan, dan paling utama. Para pakar tafsir berpendapat bahwa thayyib berkaitan dengan standar kelayakan, kebersihan dan efek fungsionalnya bagi manusia.

Jadi sangat mungkin jika makanan tersebut halal namun tidak thayyib, pun juga sebaliknya. Jika kita bersandar pada hukum Allah yang tertulis dalam Alquran maka makanan yang kita konsumsi harus memenuhi kedua syarat tersebut, bukan hanya salah satunya saja.

Kita bisa mengambil contoh makanan kari ayam yang lezat, maka makanan tersebut thayyib, tapi belum tentu halal. Jika ayamnya tidak disembelih dengan menyebut nama Allah atau ayam tersebut mati terlindas motor, maka kari ayam tersebut tidak halal meski thayyib, jadi tidak boleh dikonsumsi secara Islam.

Pun sebaliknya, jika ayam tersebut sudah disembelih secara Islam. Tapi kita yang menyantapnya sedang terkena hipertensi dan disarankan untuk menghindari makan ayam oleh dokter, maka meski halal kari ayam tersebut tidaklah thayyib sehingga tidak boleh dikonsumsi secara Islam.

Untuk itu, beberapa ulama menyarankan agar auditor halal tidak hanya melibatkan para sarjana pangan yang mengerti makanan berdasarkan kandungannya. Tapi juga melibatkan sarjana agama yang mengerti syarat halalan thayyiban secara keseluruhan. Kalau menurutmu bagaimana?

 

Sumber Gambar: tourguidevietnam.com


Share this article on
Today Quote:
Take everyday as a chance to become a better Muslim.

Posted in taiwanhalal.com

Login to comment: Login/Register or