Cuma Ada di Indonesia, Begini Asal Mula Seruan Imsak

Posted on: Taiwan Halal / By Fera Nur Aini / Editor Fera Nur Aini / 2018-05-18 09:36:53 / 495 Views

Cuma Ada di Indonesia, Begini Asal Mula Seruan Imsak

“Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 187)

Ayat di atas menjelaskan kapan dimulainya waktu puasa dan kapan pula mengakhirinya. Batas waktu ini pula yang menjadi panduan kapan kita harus sahur dan berbuka. Karena sunahnya, sahur diakhirkan sementara berbuka disegerakan. Diriwayatkan oleh Ahmad bahwa Nabi SAW bersabda, “Ummatku senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan melambatkan sahur.” (H.R. Imam Ahmad dari Abu Zarr RA)

Meski makan sahur lebih baik diakhirkan, namun jangan sampai terlalu akhir hingga kita tak sempat menyelesaikannya karena adzan Subuh sudah berkumandang. Demi kehati-hatian, agar kita tidak makan dengan terburu-buru di waktu akhir sahur, para ulama membuat waktu imsak. Perlu kita tahu, fenomena menyuarakan waktu imsak di masjid-masjid dan musala-musala hanya ada di Indonesia lho!

Imsak berasal dari bahasa Arab 'amsaka yumsiku imsak' yang memiliki arti 'menahan'. Untuk itu, pengertian imsak dalam kaitannya dengan ibadah puasa adalah waktu dimulainya menahan hal-hal yang dapat membatalkan puasa.

Penentuan waktu imsak pada jadwal-jadwal imsakiyah yang sering kita dapatkan selama bulan Ramadhan dibuat oleh para ulama dengan tujuan kehati-hatian. Waktunya ditetapkan pada 10 menit sebelum waktu Subuh. Diharapkan saat mendengar seruan imsak, umat Muslim akan lebih berhati-hati dan bersiap menahan hal-hal yang membatalkan puasa. Selain itu, waktu tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk aktivitas seperti menggosok gigi atau mandi demi persiapan menghadapi puasa hari itu.

“Waktu berpuasa adalah dari terbitnya fajar kedua sampai tenggelamnya matahari. Akan tetapi (akan lebih baik bila) orang yang berpuasa melakukan imsak (menghentikan makan dan minum) sedikit lebih awal sebelum terbitnya fajar dan menunda berbuka sejenak setelah tenggelamnya matahari agar ia menyempurnakan imsak (menahan diri dari yang membatalkan puasa) di antara keduanya.” (lihat Ali bin Muhammad Al-Mawardi, Al-Iqnaa’ [Teheran: Dar Ihsan, 1420 H] hal. 74)

Waktu imsak sebagai ihtiyath (kehati-hatian) ini didasarkan pada hadits Rasul SAW yang diriwayatkan oleh Sayyidina Anas: Sayyidina Zaid bin Tsabit RA berkata, “Kami telah makan sahur bersama-sama Nabi SAW, kemudian baginda bangun mengerjakan salat. Sayyidina Anas bertanya kepada Sayyidina Zaid, ‘Berapa lamanya antara azan (Subuh) dengan waktu makan sahur itu?’ Dia menjawab, ‘Sepadan dengan waktu yang dibutuhkan untuk membaca 50 ayat.’”

Waktu 10 menit yang digunakan untuk menentukan waktu imsak adalah waktu yang umumnya dibutuhkan untuk membaca 50 ayat tersebut.

Jadi saat mendengar seruan imsak masih boleh makan? Masih!

 

Sumber gambar: appadvice.com

 


Share this article on
Today Quote:
None of you truly believes until he wishes for his brother what he wishes for himself (hadith - Bukhari and Muslim)

Posted in taiwanhalal.com

Login to comment: Login/Register or