Memilih Pemimpin Anti Korupsi yang Meneladani Sifat Tabligh Rasulullah

Posted on: Taiwan Halal / By Fera Nur Aini / Editor Fera Nur Aini / 2018-01-24 09:20:17 / 95 Views

“Masing-masing kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang imam (kepala negara) adalah pemimpin dan akan ditanyai tentang kepemimpinannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanyai tentang kepemimpinannya. Setiap perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanyai tentang kepemimpinannya. Setiap asisten rumah tangga adalah pemimpin pada harta majikannya dan akan ditanyai tentang kepemimpinannya. Setiap laki-laki juga pemimpin pada harta orangtuanya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. (HR al-Bukhari dan Muslim)

PIlkada serentak sudah di depan mata. Dari mulai lini masa media sosial hingga acara televisi, penuh dengan kabar-kabar pilkada yang hilir mudik menawarkan wajah-wajah calon pemimpin. Belum lagi persiapan partai-partai politik untuk pemilihan presiden yang nampaknya juga sudah mulai ditata, entah melalui lagu partai yang didengungkan di TV maupun membuat wacana kontroversi. Sebagai rakyat di negara demokrasi tentunya kita memegang amanah terbesar karena kitalah yang memilih dan menentukan pemimpin mana yang akan memenangkan tampuk pimpinan. Kita bertanggungjawab dengan pilihan kita, karena itu tak boleh sembarangan melakukan pemilihan. Harus benar-benar melalui tahapan pilah dan pilih yang sangat selektif.

Salah satu sifat yang harus kita cari dari para calon pemimpin tersebut adalah sifat Tabligh yang artinya menyampaikan, salah satu dari 4 sifat yang harus kita teladani dari Rasulullah. Tabligh bisa dimaknai keterbukaan atau transparansi. Sifat ini sangat penting karena menunjukkan bahwa si calon pemimpin anti korupsi. Kita tentu tahu bahwa korupsi adalah penyakit paling populer di kalangan pemimpin Indonesia. Lalu, bagaimana sifat Tabligh terwujud dalam sebuah kepemimpinan?

1. Menolak iming-iming menggiurkan untuk menutupi kebenaran.

Tabligh adalah menyampaikan kebenaran dan mengungkap kebatilan, hal ini tercermin dalam sikap Rasulullah saat proses dakwahnya diuji. Beliau diiming-imingi banyak hal menggiurkan dengan konsekuensi harus menutupi kebenaran alias tidak menyampaikannya. Dalam era kepemimpinan sekarang, hal semacam ini sangat sering terjadi dan memicu perilaku korupsi. Dengan iming-iming uang sekian milyar, para pemimpin kita takluk pada kebatilan.

Para utusan Quraisy datang menemui Abu Thalib, paman Nabi. Mereka memberikan tawaran untuk Nabi asal beliau menghentikan dakwahnya. Hal ini dilakukan sebab ketakutan akan kedudukan, kewibawaan, dan kekuasaan Nabi pasca berdakwah. “Jika keponakanmu menginginkan kerajaan, kami siap mengangkatnya menjadi raja; jika menginginkan harta, kami siap mengumpulkan harta sehingga tidak ada yang terkaya kecuali Nabi; jika ia terkena gangguan jin, kami siap mencarikan obat untuk menyembuhkanya; asalkan ia berhenti mendakwahkan Islam.” Abu Thalib pun menyampaikan pesan ini pada Nabi dan beliau menjawab, “Demi Allah, jika mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan meninggalkan (dakwah) ini, sampai Allah memenangkannya atau aku hancur karenanya.”

2. Transparan atau terbuka, meski mengorbankan citra.

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya” (‘Abasa 1-2).

Ayat tersebut merupakan sindiran pada Rasulullah. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa firman Allah tersebut turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum, seorang buta yang datang kepada Rasulullah sambil berkata: “Berilah petunjuk kepadaku ya Rasulullah.” Pada waktu itu Rasulullah sedang menghadapi para pembesar kaum musyrikin Quraisy, sehingga Rasulullah berpaling daripadanya dan tetap mengahadapi pembesar-pembesar Quraisy. Ummi Maktum berkata: “Apakah yang saya katakan ini mengganggu tuan?” Rasulullah menjawab: “Tidak.” Ayat ini kemudian turun sebagai teguran atas perbuatan Rasulullah saw. (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Ya’la yang bersumber dari Anas.)

Rasulullah tidak merasa kawatir reputasinya akan rusak dengan sindiran Allah tersebut, beliau juga tidak pernah sekalipun menyimpan informasi berharga dan berita gembira hanya untuk dirinya sendiri. Kalau pemimpin kita sekarang? Apakah rela reputasi atau citranya rusak ketika harus menyampaikan kebenaran? Atau memilih menutupinya dengan mangkir saat dimintai informasi atau keterangan?

3. Mempermudah komunikasi dalam penyampaian aspirasi.

Cara berkomunikasi Rasulullah SAW yang lemah lembut mendatangkan cinta dari umatnya. Keterbukaan beliau dalam berkomunikasi merupakan kekuatan dalam menjalanan dakwah islam. Hal ini dapat dilihat dalam kisah Rasulullah SAW saat didatangi oleh seorang perempuan hamil yang mengaku telah berbuat zina. Si perempuan menyampaikan penyesalannya kepada beliau dan berharap diberikan sanksi berupa hukum rajam. Kejadian seperti ini tidak akan terjadi jika cara berkomunikasi Rasulullah berjarak dengan umatnya, mereka pasti akan takur untuk berkomunikasi dengan beliau.

Kemudahan berkomunikasi ini adalah bagian yang sangat penting dalam sebuah kepemimpian, tak terkecuali di era sekarang. Aspirasi memang mudah disampaikan di mana-mana, tapi terkadang justru para pemimpin yang bersembunyi dengan berbagai dalih dengan tidak menemui mereka secara langsung.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)

Jika calon pemimpin yang akan kita pilih sudah bisa meneladani sifat Tabligh dari Rasulullah, tidak ada alasan lagi untuk tidak memilih mereka bukan?


Share this article on
Today Quote:
Indeed, an ignorant man who is generous is dearer to God than a worshipper who is miserly (Hadith 580 - Al-Tirmidhi)

Posted in taiwanhalal.com