Hati-hati Jika Punya Barang-barang dari Kulit Ular atau Buaya, Ini Pendapat Para Ulama!

Posted on: Taiwan Halal / By Fera Nur Aini / Editor Fera Nur Aini / 2018-01-21 21:07:52 / 174 Views

Hati-hati Jika Punya Barang-barang dari Kulit Ular atau Buaya, Ini Pendapat Para Ulama!

Sebuah kaidah fikih menjelaskan: "Kullu maa hurrima ‘ala al ‘ibaad fa-bai’uhu haraam" yang artinya "Setiap-tiap benda yang telah diharamkan syara’ atas para hamba, maka menjualbelikannya haram pula hukumnya" (Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakhshiyyah Al Islamiyyah, 2/287).

Sementara itu kita tahu bahwa sebagian besar ulama mengharamkan ular dan buaya dengan dalil: “Setiap binatang buas yang bertaring, maka memakannya adalah haram.” (HR. Muslim no. 1933). Lalu bagaimana dengan hukum kulit dari kedua binatang tersebut? Sebelumnya kita perlu ketahui terlebih dahulu jenis-jenis kulit binatang menurut Syaikh Ibn Utsaimin dalam Liqa’at Bab Al-Maftuh (volume 52, no. 8):

1. Kulit yang suci, baik disamak maupun tidak disamak, yaitu jenis kulit hewan yang halal dimakan dan telah disembelih.

2. Kulit hewan yang tidak bisa menjadi suci, baik setelah disamak ataupun sebelum disamak, hukumnya tetap najis, yaitu jenis kulit hewan yang tidak halal dimakan, seperti babi.

3. Kulit hewan yang bisa suci setelah disamak dan tidak bisa menjadi suci, jika belum disamak, yaitu kulit hewan yang boleh dimakan, tapi mati tanpa disembelih (bangkai). Seperti bangkai kambing, dll.

Jika berdasar pada pendapat di atas, kulit ular dan buaya dikategorikan tidak bisa menjadi suci. Namun sebenarnya para ulama berselisih pendapat tentang hukum kulit ular dan hewan serupa. Namun ada beberapa hadits yang menjelaskan bahwa kulit binatang tersebut bisa disamak, beberapa di antaranya adalah hadits berikut:

  • Dari Abdullah bin Abbas dia berkata,"Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda,"Apabila kulit telah disamak, maka sungguh ia telah suci." (HR. Muslim)
  • Kenapa tidak kalian gunakan kulitnya dengan menyamaknya hingga bisa dimanfaatkan? Mereka menjawab,"Kami mengira bangkai". Beliau SAW berkata,"Yang diharamkan adalah memakannya". (HR. Bukhari Muslim)
  • Sesungguhnya penyamakan itu merupakan pensuciannya. (HR. An-Nasa'i).

Adapun ulama yang berpendapat bahwa kulit dari binatang-binatang tersebut tetap najis memiliki pegangan hadits berikut ini:

  • Telah datang sebuah surat dari Nabi SAW sebulan atau dua bulan sebelum wafatnya yang berisi : Janganlah kalian memanfaatkan kulit bangkai dengan cara penyamakan. (HR. At-Tirmizy)
  • Dahulu Aku pernah memberikan keringanan atas sucinya kulit bangkai. Dengan datangnya suratku ini maka janganlah kalian memanfaatkan kulit bangkai yang telah disamak. (HR. Abu Daud)

Jika dua pendapat terakhir yang digunakan maka artinya tidak dibenarkan pula memproduksi dan memperjual belikan barang yang najis, sebagaimana dijelaskan oleh As Sayyid As Sabiq dalam kitab fiqihnya pada persyaratan pertama barang-barang yang halal diperjual-belikan. Untuk itu lebih baik kita berhati-hati saat memutuskan akan memiliki barang-barang yang terbuat dari kulit ular maupun buaya. Wallahua'lam.


Share this article on
Today Quote:
Indeed, an ignorant man who is generous is dearer to God than a worshipper who is miserly (Hadith 580 - Al-Tirmidhi)

Posted in taiwanhalal.com

Login to comment