Benarkah Alquran Hanya Mengharamkan Dagingnya Saja dan Bukan Organ Tubuh Babi Lainnya?

Posted on: Taiwan Halal / By Fera Nur Aini / Editor Fera Nur Aini / 2018-01-16 20:08:35 / 277 Views

Islam dengan jelas mengharamkan daging babi, larangan ini disebutkan dengan jelas dalam Hadits dan Alquran. Tak hanya sekali, dalam Alquran, pengharaman daging babi bahkan disebutkan berkali-kali dalam beberapa ayat.

Bukan tanpa alasan Islam mengharamkannya, sudah banyak penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa daging babi memang tidak baik untuk dikonsumsi. Beberapa bibit penyakit terbukti dibawa oleh babi seperti beberapa jenis cacing, bakteri, virus, hingga parasit. Selain itu, kantung urin babi sering bocor sehingga mencemari dagingnya. Beberapa penyakit juga dapat ditularkan babi pada manusia. Selain itu, konon DNA babi mirip dengan manusia sehingga sifat buruknya dapat menular ke manusia.

Namun, yang kemudian menjadi pertanyaan adalah apakah yang haram hanya daging babinya saja sementara organ tubuh lainnya dari babi tidak haram? Bukankan dalam Alquran yang disebut hanya "daging babi", bukan "babi" secara keseluruhan? Berikut ini adalah beberapa ayat Alquran yang menerangkan keharaman daging babi:

  • “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah.” (QS. Al Baqarah: 173)
  • “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah.” (QS. Al Maa’idah: 3)
  • “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah.” (QS. An Nahl: 115)
  • Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor (najis)” (QS. Al An’aam: 145)

Apa makna frasa 'wa lahmal khinzir’ (dan daging babi) dalam ayat-ayat tersebut? Apakah hanya sebatas daging babinya atau juga mencakup juga organ tubuhnya yang lain? Dalam hal ini ada dua pendapat besar yang biasanya dijadikan acuan. Pertama adalah pendapat Dawud Az-Zhahiri dan yang kedua adalah pendapat jumhurul ulama atau mayoritas ulama.

Pandangan Dawud Az-Zhahiri

Pendapat beliau berbeda dengan pendapat mayoritas ulama. Dawud Az-Zhahiri memandang makna dari frasa 'wa lahmal khinzir' adalah daging itu saja, bukan selainnya. Pemaknaan ini sesuai dengan bunyi nash yang terdapat di dalam Alquran. Itu artinya jika kita mengikuti pandangan Dawud Az-Zhahiri maka konsekuensinya adalah kita beranggapan bahwa keharamannya hanya terbatas pada daging babi saja.

Perlu diketahui beliau adalah pendiri mazhab az-Zahiri yang beranggapan bahwa sumber hukum fikih hanya nash dalam arti Alquran dan sunah. Dalam memahami kandungan nash Alquran dan sunah, mazhab ini hanya mengambil arti zahir (lahir) lafal nash dan sama sekali tidak melakukan takwil terhadap nash tersebut. Karena itu sering dianggap sebagai mazhab fikih yang cukup ekstrem. 

Pendapat mayoritas ulama

Mayoritas ulama berpendapat penyebutan 'daging babi' dan bukan 'babi' dalam Alquran disebabkan daging adalah organ tubuh babi yang paling banyak dimanfaatkan. Namun dalam bahasa Arab sebenarnya sudah sangat biasa penggunaan majaz mursal, yaitu menyebutkan sebagian untuk menyatakan keseluruhan.

Artinya mayoritas ulama berpendapat bahwa penyebutan 'daging babi' sebagai sebagian organ tubuhnya dimaksudkan untuk menyatakan keluruhannya. Jika kita mengikuti pendapat ini konsekuensinya adalah keharaman babi itu bukan hanya sebatas dagingnya tetapi juga mencakup organ tubuh lainnya.

Sebaiknya kita ikut pendapat yang mana?

Lebih aman jika kita mengikuti pendapat mayoritas ulama karena jika pendapat ini disetujui oleh lebih banyak ulama, maka artinya sudah lebih banyak kajian yang telah dilakukan. Selain itu, dalam Hadist sebenarnya pengharaman ini juga disebutkan dalam frase 'babi', bukan hanya 'daging babi' saja.

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamr dan hasil penjualannya dan mengharamkan bangkai dan hasil penjualannya serta mengharamkan babi dan hasil penjualannya.” (HR. Abu Daud)

Mengikuti pendapat mayoritas ulama juga bagian dari kehati-hatian, karena sebuah Hadist menyebutkan bahwa:

“Akan datang kepada manusia suatu zaman (ketika itu) seorang tidak lagi peduli dengan apa yang dia dapatkan, apakah dari yang halal atau haram?!” (HR. Bukhari: 2059)

Semoga kita bukan bagian dari manusia di zaman tersebut ya!


Share this article on
Today Quote:
If you want to destroy any nation without war, make adultery & nudity common in the next generation. – Salahuddin Ayyubi Quote.

Posted in taiwanhalal.com