Bolehkah Menjadi Vegetarian dalam Ajaran Agama Islam?

Posted on: Taiwan Halal / By Fera Nur Aini / Editor Fera Nur Aini / 2018-01-09 20:55:39 / 1322 Views

Bolehkah Menjadi Vegetarian dalam Ajaran Agama Islam?

Hidup di negara dengan mayoritas non Muslim sering kali membuat kita ragu untuk membeli makanannya. Demi menjaga kehalalan asupan makanan yang masuk ke tubuh, beberapa orang memilih menjadi vegetarian. Alasannya jelas, buah dan sayur pasti halal. Sedangkan daging-dagingan masih diragukan kehalalannya. Bahkan meski daging tersebut jenis daging yang halal seperti sapi atau kambing, kita tetap was-was karena proses penyembelihannya belum tentu halal. Untuk itu, pilihan menjadi vegetarian dianggap paling aman bagi mereka yang tinggal di negara dengan mayoritas non Muslim.

Namun, pertanyaan yang muncul selanjutnya, benarkah bahwa makanan yang terbuat dari buah dan sayur pasti halal? Dan bagaimana pandangan Islam tentang gaya hidup vegetarian yang sebenarnya lebih condong ke ajaran agama lain?

Mengenal gaya hidup vegetarian

Menu vegetarian

Menurut kamus Oxford, vegetarian diartikan sebagai seseorang yang tidak makan daging atau ikan, dan terkadang produk hewani lainnya, terutama untuk alasan moral, agama, atau kesehatan. Seiring berkembangnya gaya hidup vegetarian, ada banyak jenis vegetarian yang muncul, seperti misalnya lacto-ovo vegetarian yang masih mau memakan susu dan telur selain bahan-bahan nabati. Kita juga mengenal lacto-vegetarian yang hanya mau minum susu saja selain bahan makanan nabati, atau ovo-vegetarian yang hanya mau makan telur saja dari produk hewani yang ada. Ada juga pesco-vegetarian yang masih mau makan ikan.

Umat Muslim yang memilih menjadi vegetarian mungkin menjadi pesco-lacto-ovo-vegetarian, yaitu masih mau makan ikan, susu, dan telur selain bahan makanan nabati. Mereka hanya menghindari daging saja yang kehalalannya diragukan.

Asal-usul vegetarian, adakah dalam Islam?

Muslim

Menurut Wikipedia, istilah vegetarian sudah dikenal sejak 1839, berasal dari kata Vegetus dalam bahasa Latin yang artinya adalah keseluruhan, sehat, segar, hidup. Istilah ini awal mula kemunculannya berkaitan dengan Alcott House, sebuah tempat pembelajaran yang terletak di sebelah uatara Ham Common, London. Tempat ini menerbitkan pamflet-pamflet "The Healthian" yang didalamnya menggunakan istilah vegetarian.

Asal-usulnya sendiri lebih erat dengan kaum Yunani Kuno yang memang sudah mengenal konsep tidak makan daging. Salah satu tokohnya adalah Pythagoras yang hidup di akhir abad ke-6 SM. Ia berpendapat bahwa daging binatang bisa membuat jiwa manusia terkontaminasi dan jadi liar. Konsep vegetarian juga dikenal dalam agama-agama seperti Brahmanisme, Buddhaisme, dan Hindu. Keuntungan menjadi vegetarian baik menurut para filsuf Yunani maupun agama-agama tersebut lebih pada alasan moral dan spiritual. Namun di akhir abad ke-19 baru muncul alasan kesehatan atas konsep vegetarian.

Sementara itu, dalam Islam sendiri tidak ada anjuran untuk menjalani gaya hidup vegetarian. Bahkan beberapa ulama berpendapat bahwa gaya hidup vegetarian dilarang dalam Islam karena tidak ada dalilnya dalam ajaran Islam, termasuk perbuatan mengharamkan yang halal, dan bisa jadi bentuk mengingkari nikmat Allah SWT. Bahkan ada yang dengan tegas menyebut bahwa gaya hidup vegetarian membuat kita menyerupai orang kafir dan membuat perkara baru atua bid'ah.

Melansir Ummi Online, seorang ulama terkemuka dari AS, Syeikh Hamza Yusuf, memiliki pendapat lain. Hal itu beliau sampaikan dalam sebuah ceramah bahwa memakan daging bukan bagian dari syariat Islam. Menurutnya, Rasulullah SAW merupakan semi vegetarian karena dalam banyak riwayat disebutkan beliau mengonsumsi makanan yang tidak mengandung daging.

“Umar bin Khattab RA pernah bertemu dengan seorang lelaki yang setiap hari makan daging. Lalu beliau berpesan, 'Akan lebih baik jika engkau menggulung perut agar orang lain bisa makan.' Di bagian lain kitab Al-Muwatta yang disusun Imam Malik bin Anas disebutkan bahwa Umar pernah berpesan, 'Waspadalah terhadap daging karena ia dapat membuat seseorang kecanduan seperti terhadap anggur (alkohol)."

Menjadi vegetarian, aman dari makanan haram?

Taipei

Jawabannya belum tentu, bagaimana bisa? Beberapa menu vegetarian yang disediakan di negara dengan mayoritas non Muslim terkadang masih menggunakan bahan tambahan seperti kaldu untuk mendekati cita rasa hewani agar Si vegetarian tidak bosan. Untuk alasan itu, para pemilik restoran atau rumah makan menggunakan bahan-bahan makanan yang merupakan turunan hewani, yaitu produk-produk mikrobial yang medianya berbagan hewani seperti IMP dan GMP. Penggunaan minuman keras atua alkohol juga terkadang dilakukan para makanan yang disajikan untuk para vegetarian. Jadi kita tetap harus hati-hati dan waspada meskipun memilih makanan yang judulnya adalah makanan untuk para vegetarian. Kita tetap harus teliti dengan kandungan bahan-bahan lain yang digunakan sebagai campuran buah dan sayur.

Setelah membaca penjelasan di atas, bagaimana pendapatmu tentang gaya hidup vegetarian saat sedang hidup di negara dengan mayoritas non-Muslim? Bagikan pendapatmu di kolom komentar ya!

 

 


Share this article on
Today Quote:
Nothing shall be legitimate to a Muslim which belongs to a fellow Muslim unless it was given freely and willingly. Do not, therefore, do injustice to yourselves (hadits)

Posted in taiwanhalal.com

Login to comment