Kenapa Islam Tidak Menggunakan Sistem Kalender Masehi?

Posted on: Taiwan Halal / By Fera Nur Aini / Editor Fera Nur Aini / 2017-12-31 18:57:29 / 217 Views

Tahun 2018 datang, banyak orang merayakan pergantian tahun baru Masehi ini dengan berbagai macam cara, dari mulai menyalakan kembang api, membakar jagung, meniup terompet, hingga bepergian ke lokasi-lokasi wisata populer. Tentu pro kontra bertebaran di kalangan masyarakat, ada yang menganggap perayaan ini sangat khas dengan orang kafir sehingga tak boleh kita lakukan. Ada pula yang cukup netral dan tak terlalu mempersoalkan, toh kalau tak membawa mudharat besar tak mengapa dilakukan. Kita tidak akan membahas pro kontra tersebut, tapi justru menggali lebih dalam tentang alasan dibalik tak digunakannya perhitungan kalender Masehi dalam Agama Islam.

Islam turun di bangsa pengguna kalender "Hijriyah".

Sebelum Islam turun kalender ini belumlah bernama kalender hijriyah, hanya saja sistem perhitungannya memang sama persis dengan kalender hijriyah, yaitu berdasarkan perputaran bulan. Jauh sebelum ada agama Islam, sistem perhitungan kalender sudah digunakan di banyak tempat, ada dua macam sistem yang sering digunakan yaitu berdasarkan perputaran bulan dan matahari.

Bangsa Arab adalah salah satu yang menggunakan sistem perhitungan kalender qomariyah. Hanya saja, waktu itu mereka belum mengenal sistem tahun. Mereka hanya mengenal sistem penanggalan dan jumlah bulan sebanyak 12 dalam setahun. Nama-nama bulannya oleh bangsa Arab disebut sebagai Muharram, Safar, Rabiul Awwal, Rabiutstani, Jumadil Awwal, Jumaditstsani, Rajab, Sya'ban, Ramadhan, Syawwal, Dzul Qa'dah dan Dzulhijjah. Jadi tak heran jika kita menemukan fakta bahwa bangsa Arab jahiliyah telah melaksanakan ritual haji di bulan Dzulhijjah karena penamaan bulan memang sudah ada sejak sebelum Islam masuk.

Islam adalah agama yang "mudah".

Melansir NU, jatuhnya pilihan Islam terhadap sistem qamariyah sebagai kalender formal syar'inya bukan hanya karena kebetulan Islam turun untuk pertama kalinya kepada masyarakat pengguna kalender tersebut. Tetapi lebih pada alasan bahwa sistem kalender qamariyah lebih sejalan dengan karakter Islam sebagai agama yang mudah, jika dibandingkan dengan sistem kalender qomariyah.

Dalam kalender qamariyah, umur bulan bisa diketahui dengan mudah melalui pengamatan yang sederhana terhadap Bulan. Penampakan bulan dapat diamati oleh manusia di Bumi dalam posisi dan bentuk penampakan yang selalu berubah setiap hari secara signifikan. Perubahan itu berupa pergeseran posisinya ke arah Timur dan dalam Alquran fenomena ini dijelaskan dalam Surat Yasin (39): "Kami tetapkan bagi Bulan manzilah-manzilah, sehingga kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua."

Keadaan seperti itu tidak terjadi pada Matahari yang hadir dengan bentuk penampakan yang relatif sama setiap hari. Meskipun sebenarnya posisi Matahari itu juga bergeser, yakni ke Utara atau ke Selatan, tetapi pergeserannya itu terjadi tidak secara mencolok.

Kalender hijriyah punya musim yang berbeda tiap tahunnya.

Setiap tahunnya, kalender hijriyah lebih pendek kira-kira 11 hari dibandingkan kalender masehi artinya tiap tahun kalender hijriyah lebih cepat 11 hari dari kalender masehi. Dengan demikian, dalam rentang waktu sekitar 33 tahun hijriyah, umat manusia akan mengalami semua musim untuk satu bulan tertentu dalam kalender hijriyah. Hal ini sangat penting karena kegiatan tahunan dari umat Islam didasarkan pada kalender hijriyah seperti bulan ramadhan dan bulan haji.

Selama ramadhan, umat Islam harus berpuasa menahan lapar dan dahaga mulai dari matahari terbit sampai terbenam. Jika bulan Islam berdasarkan kalender masehi di mana musim-musim yang ada jatuh pada bulan yang tetap, maka orang-orang yang tinggal di belahan dunia tertentu akan terus berpuasa Ramadhan di musim panas atau musim dingin. Sebagian Muslim harus berpuasa untuk jangka waktu yang lebih lama di negeri yang memiliki hari-hari yang panjang, sementara Muslim lainnya berpuasa selama periode waktu yang lebih pendek di negeri yang memiliki hari-hari yang pendek.


Meski umat Islam menggunakan sistem kalender hijriyah bukan berarti kita dilarang menggunakan matahari sebagai perhitungan waktu, hal ini tercermin dalam ayat Alquran: "Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui [QS 6:96]. Wallahua'lam.


Share this article on
Today Quote:
Born from different mothers skins of all colours come together as brothers . that’s the beauty of Islam.

Posted in taiwanhalal.com