Libur Akhir Tahun Telah Tiba, Jangan Lupa Belajar Fiqih Perjalanan Ya!

Posted on: Taiwan Halal / By Fera Nur Aini / Editor Fera Nur Aini / 2017-12-24 22:06:42 / 359 Views

Libur Akhir Tahun Telah Tiba, Jangan Lupa Belajar Fiqih Perjalanan Ya!

Libur telah tiba, akhirnya liburan akhir tahun menyapa kita. Liburan kali ini, kemana kamu akan menghabiskan waktu? Apakah kamu akan melakukan perjalanan jauh atau hanya menghabiskannya di rumah saja?

Untuk kamu yang memilih untuk melakukan perjalanan, khususnya yang berjarak cukup jauh, sebaiknya jangan melupakan aturan-aturan fiqih safar atau perjalanan yang sudah disepakati ulama. Tak hanya tentang sholat, tapi juga termasuk batasan jarak safar dan semacamnya.

Apa itu safar?

Berlibur identik dengan melakukan perjalanan atau safar, dalam Islam yang dimaksud safar adalah keluar dari tempat tinggal yang jelas dan nyata bentuknya, untuk menempuk suatu jarak tertentu. Tapi batasan jarak yang dimaksud di sini masih menjadi perdebatan di kalangan ulama, sebagian mengatakan bahwa batasan jaranya adalah antara Makkah-Arafah (30 km) adapula yang berkeyakinan jaraknya adalah Makkah-Thaif/Usfan/Jeddah (48 mil atau 77,232 kilometer). Orang yang melakukan safar atau perjalanan disebut musafir. Selain terikat ketentuan jarak, para ulama juga bersepakat bahwa seorang Muslim yang berada di daerahnya sendiri atau di tempat ia bertempat tinggal di sana, ia bukanlah musafir. Kali ini Taiwan Halal akan membahas beberapa hal yang sering kali menjadi pertanyaan kita semua saat sedang melakukan safar atau perjalanan.

Bagaimana jika kita berlibur dan bermaksud menetap di suatu tempat dalam jangka waktu tertentu, apakah kita keluar dari batasan safar sejak tiba di tempat tujuan sampai waktu kepulangan?

  • Sebagian ulama mengatakan: kita berstatus sebagai musafir sampai kembali ke daerah tempat tinggal kita. Berapapun lamanya ia menetap di daerah tujuan.
  • Sebagian ulama mengatakan: kita berstatus musafir jika berencana tinggal selama 4 hari atau kurang dari itu dan berstatus sebagai muqim (menetap) sejak tiba di tempat tujuan jika kita berencana tinggal lebih dari 4 hari.

*Pendapat yang sering digunakan adalah pendapat kedua.

Bagaimana jika kita sampai di tempat tujuan, namun tidak berencana menetap di sana dan masih bimbang atau belum tahu kapan akan pulang?

  • Sebagian ulama mengatakan: kita berstatus sebagai musafir sampai kembali ke daerah tempat tinggal kita.
  • Sebagian ulama mengatakan: kita berstatus musafir selama 19 hari, namun setelahnya kita berstatus muqim.

*Pendapat yang sering digunakan adalah pendapat kedua.

Bagaimana ketentuan meng-qashar (meringkas) sholat saat sedang melakukan perjalanan?

  • Meng-qashar shalat baru boleh dilakukan jika kita sudah meninggalkan rumah terakhir di daerah tempat tinggal kita dan sudah menemui rumah pertama di daerah tujuan perjalanan.
  • Hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan). Namun jika ingin menyempurnakan rakaat, shalatnya tetap sah.
  • Jika kita sebagai musafir ingin menjadi makmum dari imam yang statusnya muqim, maka kita tidak boleh meng-qashar sholat.


Bagaimana ketentuan meng-jamak (menggabungkan) sholat saat sedang melakukan perjalanan?

  • Boleh dilakukan ketika safar: dhuhur dengan ashar, maghrib dengan isya, sementara subuh dikerjakan pada waktunya dan tidak dijamak dengan shalat sebelumnya atau sesudahnya.Shalat maghrib tidak boleh diringkas menjadi 2 rakaat, demikian juga shalat subuh tetap dikerjakan 2 rakaat.
  • Menjamak shalat dengan shalat sebelumnya dinamakan jamak taqdim. Menjamak shalat dengan shalat sesudahnya dinamakan jamak ta’khir.
  • Lebih utama jika kita shalat pada waktunya (tidak dijamak), kecuali kalau perjalanannya terus-menerus.
  • Hendaknya adzan sebelum shalat yang pertama saja, dan iqamat pada setiap shalat, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Apakah orang yang melakukan perjalanan (musafir) wajib sholat Jum'at?

Tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi musafir, namun diganti dengan shalat dhuhur, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam hajinya. Waktu itu bertepatan dengan hari Jum’at dan beliau tidak shalat Jum’at tapi shalat dhuhur dijamak dengan shalat ashar. Tapi jika seorang musafir shalat Jum’at, tidak boleh menjamaknya dengan shalat ashar.

 

Selain pertanyaan-pertanyaan di atas, adakah pertanyaan yang sering muncul dalam benakmu saat sedang melakukan safar atau perjalanan? Berbagi di kolom komentar yuk!


Share this article on
Today Quote:
He will not enter Paradise whose neighbour is not secure from his wrongful conduct (hadith 15 - Sahih Muslim)

Posted in taiwanhalal.com

Login to comment: Login/Register or