Kisah Abu Bakar Menjaga Tubuhnya Sampai Memuntahkan Makanan Haram

Posted on: Taiwan Halal / By Fera Nur Aini / Editor Fera Nur Aini / 2017-12-08 16:13:14 / 345 Views

Kisah ini diceritakan oleh putri Abu Bakar ash-Shiddiq radliallahu ‘anhu, ‘Aisyah radhiallahu’anha, bahwa beliau memiliki seorang budak yang setiap hari membayar setoran berupa harta atau makanan. Setoran tersebut beliau gunakan untuk makan sehari-harinya. Suatu hari, budak tersebut membawa makanan dan Abu Bakar radliallahu ‘anhu memakannya seperti biasa. Berkatalah si budak: “Apakah anda mengetahui apa yang anda makan ini?”. Beliaupun balik bertanya: “Makanan ini memangnya dari mana?”.

Lalu budak itu menceritakan bahwa makanan itu ia dapatkan sebagai hadiah dari seseorang yang ia tipu saat melakukan praktik perdukunan di jaman Jahiliyah. Setelah mendengar pengakuan budaknya itu Abu Bakar radliallahu ‘anhusegera memasukkan jari tangan beliau ke dalam mulut, lalu beliau memuntahkan semua makanan dalam perut beliau”. (HR. Bukhari no. 3629)

Sikap Abu Bakar radliallahu ‘anhu menunjukkan bahwa beliau sangat berhati-hati menjaga makanan yang masuk dalam tubuhnya dan benar-benar mengaplikasikan sifat wara', yaitu tidak memakan makanan dan menerima pemberian dari seseorang yang diketahui dengan yakin bahwa hartanya bersumber dari penghasilan yang haram, kecuali jika dia punya sumber penghasilan lain yang halal (hartanya bercampur dengan barang haram). Beliau sangat ketat menjaga diri dari makanan yang tidak halal. Ini menunjukkan kesempurnaan iman dan takwa yang ada dalam hati beliau.

“Barangsiapa yang menjaga diri dari hal-hal yang samar (belum jelas status halal atau haramnya) maka sungguh dia telah menjaga kesucian agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus ke dalam hal-hal yang samar tersebut maka berarti dia telah terjerumus ke dalam perkara yang haram (dilarang dalam Islam)…”. (HR. Muslim, no 1599)

Hadist di atas benar-benar tercermin dalam perilaku Abu Bakar radliallahu ‘anhu, yang dengan sifat ini kebaikan agama beliau akan selalu terjaga atas izin Allah SWT. Selain itu, dari cerita ini kita juga diingatkan bahwa praktik perdukunan merupakan dosa besar dan penghasilan yang diperoleh dari perdukunan sudah pasti haram.

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal kemudian membenarkan ucapannya, maka sungguh dia telah kafir terhadap agama yang diturunkan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (HR Ahmad, 2/429 dan Hakim, 1/49, dan dishahihkan Al-Albani)

Semoga kita bisa meneladani sikap Abu Bakar Ash-SHiddiq radliallahu ‘anhu. Aamiin.

 


Share this article on
Today Quote:
When Someone is behaving unjustly to you, find peace in the truth of the situation, knowing that Allah is enough as a witness.

Posted in taiwanhalal.com

Login to comment